Ilmu Pembersih Hati Oleh KH. Abdullah Gymnastiar

November 21, 2008 by Zahiruddin  
Filed under Amalan, Hikmah, Rahsia, Rezeki Halal, Tips, Ulama, Umum

Salam,

Di sini saya ingin kongsikan satu artikel yang menarik perihal hati dan menuntut ilmu. Semoga kita sama-sama amalkan perkara ini.

Zahiruddin

Ilmu Pembersih Hati     
KH. Abdullah Gymnastiar

Ada sebait do’a yang pernah diajarkan Rasulullah SAW dan disunnahkan untuk dipanjatkan kepada Allah Azza wa Jalla sebelum seseorang hendak belajar. do’a tersebut berbunyi : Allaahummanfa’nii bimaa allamtanii wa’allimnii maa yanfa’uni wa zidnii ilman maa yanfa’unii. dengan do’a ini seorang hamba berharap dikaruniai oleh-Nya ilmu yang bermamfaat.

Apakah hakikat ilmu yang bermamfaat itu? Secara syariat, suatu ilmu disebut bermamfaat apabila mengandung mashlahat - memiliki nilai-nilai kebaikan bagi sesama manusia ataupun alam. Akan tetapi, mamfaat tersebut menjadi kecil artinya bila ternyata tidak membuat pemiliknya semakin merasakan kedekatan kepada Dzat Maha Pemberi Ilmu, Allah Azza wa Jalla. Dengan ilmunya ia mungkin meningkat derajat kemuliaannya di mata manusia, tetapi belum tentu meningkat pula di hadapan-Nya.

Oleh karena itu, dalam kacamata ma’rifat, gambaran ilmu yang bermamfaat itu sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh seorang ahli hikmah. “Ilmu yang berguna,” ungkapnya, “ialah yang meluas di dalam dada sinar cahayanya dan membuka penutup hati.” seakan memperjelas ungkapan ahli hikmah tersebut, Imam Malik bin Anas r.a. berkata, “Yang bernama ilmu itu bukanlah kepandaian atau banyak meriwayatkan (sesuatu), melainkan hanyalah nuur yang diturunkan Allah ke dalam hati manusia. Adapun bergunanya ilmu itu adalah untuk mendekatkan manusia kepada Allah dan menjauhkannya dari kesombongan diri.”

Ilmu itu hakikatnya adalah kalimat-kalimat Allah Azza wa Jalla. Terhadap ilmunya sungguh tidak akan pernah ada satu pun makhluk di jagat raya ini yang bisa mengukur Kemahaluasan-Nya. sesuai dengan firman-Nya, “Katakanlah : Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menuliskan) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (dituliskan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” (QS. Al Kahfi [18] : 109).

Adapun ilmu yang dititipkan kepada manusia mungkin tidak lebih dari setitik air di tengah samudera luas. Kendatipun demikian, barangsiapa yang dikaruniai ilmu oleh Allah, yang dengan ilmu tersebut semakin bertambah dekat dan kian takutlah ia kepada-Nya, niscaya “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al Mujadilah [58] : 11). Sungguh janji Allah itu tidak akan pernah meleset sedikit pun!

Akan tetapi, walaupun hanya “setetes” ilmu Allah yang dititipkan kepada mnusia, namun sangat banyak ragamnya. ilmu itu baik kita kaji sepanjang membuat kita semakin takut kepada Allah. Inilah ilmu yang paling berkah yang harus kita cari. sepanjang kita menuntut ilmu itu jelas (benar) niat maupun caranya, niscaya kita akan mendapatkan mamfaat darinya.

Hal lain yang hendaknya kita kaji dengan seksama adalah bagaimana caranya agar kita dapat memperoleh ilmu yang sinar cahayanya dapat meluas di dalam dada serta dapat membuka penutup hati? Imam Syafii ketika masih menuntut ilmu, pernah mengeluh kepada gurunya. “Wahai, Guru. Mengapa ilmu yang sedang kukaji ini susah sekali memahaminya dan bahkan cepat lupa?” Sang guru menjawab, “Ilmu itu ibarat cahaya. Ia hanya dapat menerangi gelas yang bening dan bersih.” Artinya, ilmu itu tidak akan menerangi hati yang keruh dan banyak maksiatnya.

Karenanya, jangan heran kalau kita dapati ada orang yang rajin mendatangi majelis-majelis ta’lim dan pengajian, tetapi akhlak dan perilakunya tetap buruk. Mengapa demikian? itu dikarenakan hatinya tidak dapat terterangi oleh ilmu. Laksana air kopi yang kental dalam gelas yang kotor. Kendati diterangi dengan cahaya sekuat apapun, sinarnya tidak akan bisa menembus dan menerangi isi gelas. Begitulah kalau kita sudah tamak dan rakus kepada dunia serta gemar maksiat, maka sang ilmu tidak akan pernah menerangi hati.

Padahal kalau hati kita bersih, ia ibarat gelas yang bersih diisi dengan air yang bening. Setitik cahaya pun akan mampu menerangi seisi gelas. Walhasil, bila kita menginginkan ilmu yang bisa menjadi ladang amal shalih, maka usahakanlah ketika menimbanya, hati kita selalu dalam keadaan bersih. hati yang bersih adalah hati yang terbebas dari ketamakan terhadap urusan dunia dan tidak pernah digunakan untuk menzhalimi sesama. Semakin hati bersih, kita akan semakin dipekakan oleh Allah untuk bisa mendapatkan ilmu yang bermamfaat. darimana pun ilmu itu datangnya. Disamping itu, kita pun akan diberi kesanggupan untuk menolak segala sesuatu yang akan membawa mudharat.

Sebaik-baik ilmu adalah yang bisa membuat hati kita bercahaya. Karenanya, kita wajib menuntut ilmu sekuat-kuatnya yang membuat hati kita menjadi bersih, sehingga ilmu-ilmu yang lain (yang telah ada dalam diri kita) menjadi bermamfaat.

Bila mendapat air yang kita timba dari sumur tampak keruh, kita akan mencari tawas (kaporit) untuk menjernihkannya. Demikian pun dalam mencari ilmu. Kita harus mencari ilmu yang bisa menjadi “tawas”-nya supaya kalau hati sudah bening, ilmu-ilmu lain yang kita kaji bisa diserap seraya membawa mamfaat.

Mengapa demikian? Sebab dalam mengkaji ilmu apapun kalau kita sebagai penampungnya dalam keadaan kotor dan keruh, maka tidak bisa tidak ilmu yang didapatkan hanya akan menjadi alat pemuas nafsu belaka. Sibuk mengkaji ilmu fikih, hanya akan membuat kita ingin menang sendiri, gemar menyalahkan pendapat orang lain, sekaligus aniaya dan suka menyakiti hati sesama. Demikian juga bila mendalami ilmu ma’rifat. Sekiranya dalam keadan hati busuk, jangan heran kalau hanya membuat diri kita takabur, merasa diri paling shalih, dan menganggap orang lain sesat.

Oleh karena itu, tampaknya menjadi fardhu ain hukumnya untuk mengkaji ilmu kesucian hati dalam rangka ma’rifat, mengenal Allah. Datangilah majelis pengajian yang di dalamnya kita dibimbing untuk riyadhah, berlatih mengenal dan berdekat-dekat dengan Allah Azza wa Jalla. Kita selalu dibimbing untuk banyak berdzikir, mengingat Allah dan mengenal kebesaran-Nya, sehingga sadar betapa teramat kecilnya kita ini di hadapan-Nya.

Kita lahir ke dunia tidak membawa apa-apa dan bila datang saat ajal pun pastilah tidak membawa apa-apa. Mengapa harus ujub, riya, takabur, dan sum’ah. Merasa diri besar, sedangkan yang lain kecil. Merasa diri lebih pintar sedangkan yang lain bodoh. Itu semua hanya karena sepersekian dari setetes ilmu yang kita miliki? Padahal, bukankah ilmu yang kita miliki pada hakikatnya adalah titipan Allah jua, yang sama sekali tidak sulit bagi-Nya untuk mengambilnya kembali dari kita?

Subhanallaah! Mudah-mudahan kita dimudahkan oleh-Nya untuk mendapatkan ilmu yang bisa menjadi penerang dalam kegelapan dan menjadi jalan untuk dapat lebih bertaqarub kepada-Nya.

Raden Patah: Penegak Kekuasaan Islam di Jawa

November 19, 2008 by Zahiruddin  
Filed under Hikmah, Makluman, Maklumat, Ulama, Umum

Salam,

Kali ini saya ingin kongsi perihal Raden Patah - Sultan Demak yang pertama.

“Saya adalah ulama asing yang datang ke Pulau Jawa. Hanya sementara waktu saja saya memimpin masyarakat Islam Jawa berkat keizinan Sang Prabu (Raja Majapahit). Berbeza dengan kamu. Kamu orang Jawa tulen, turun-temurun orang Jawa yang memiliki Pulau Jawa.”

Kata-kata Sunan Ampel (salah seorang Wali Songo) itu telah menjadi perangsang kepada Raden Patah yang kemudiannya telah menegakkan kerajaan Demak, iaitu kerajaan Islam yang pertama di Jawa. Raden Patah telah memainkan peranan yang amat penting dalam pengislaman orang-orang di Jawa dan timur Nusantara. Dengan terdiri kerajaan Islam Demak dan penaklukannya ke atas kerajaan Hindu Majapahit serta pengusiran tentera Portugis dari Jawa Barat, pengislaman Jawa adalah terjamin. Terbinanya kerajaan Islam Demak merupakan satu titik peralihan dalam sejarah Jawa dan timur Nusantara.

Asal-usul Raden Patah tidak diketahui dengan jelas. Sesetengah ahli sejarah mengatakan beliau datang dari Palembang. Sesetengahnya mengatakan beliau dari keturunan kacukan Jawa dan Cina, dan yang lain pula menyatakan beliau berketurunan raja Majapahit. Mengikut huraian terakhir oleh Prof. Slamet Mulyana dalam bukunya “Runtuhnya Kerajaan Hindu Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara”, Raden Patah adalah putera Kertabumi, raja Majapahit (1466-1478) dengan seorang puteri Cina. Atas desakan isteri Kertabumi yang lain, puteri Cina yang hamil itu telah diberi kepada Bupati Palembang untuk dijadikan sebagainya isterinya. Di Palembang itulah Raden Patah dilahirkan. Beliau dipelihara oleh bapa tirinya antara tahun 1455 hingga 1474. Raden Patah enggan menjadi Bupati Palembang untuk menggantikan bapa tirinya itu, dan dia bersama Raden Kusen, adik tirinya telah belayar ke Pulau Jawa pada tahun 1474.

Mereka tiba di Surabaya dan menjadi murid kepada Sunan Ampel mulai tahun tersebut. Raden Patah kemudiannya berkahwin dengan anak sunan itu. Raden Kusen pula telah pergi ke Majapahit. Oleh sebab Raden Kusen pandai membuat mercun, dia telah diterima oleh Kertabumi dan diangkat menjadi Adipati Terung, sebuah wilayah Majapahit. Sebenarnya pemergiannya ke Majapahit itu adalah sebagai pengintip rahsia untuk Raden Patah yang merancang menakluk Majapahit. Atas nasihat Sunan Ampel, Raden Patah telah meneroka hutan di Bintara pada tahun 1475. Dia membina masjid dan mengajar agama Islam di situ. Tempat itu kemudiannya digelar Demak.

Pemilihan Demak sebagai pusat kerajaan merupakan satu keputusan yang bijak kerana ia terletak di tempat yang strategik. Ini disebabkan – pertama, ia menguasai tanah dataran yang mengeluarkan hasil padi di utara Jawa (dari Japara hingga Gresik) dan kedua, ia menguasai perniagaan di dua buah pelabuhan – Japara dan Gresik. Melalui Japara beras diesksport ke Melaka, manakala melalui Gresik, terdapat perniagaan yang menguasai kepulauan rempah di Maluku.

Selain daripada mengajar agama Islam di situ, Raden Patah juga melatih orang-orang Islam keturunan Jawa dan Cina yang menjadi pengikutnya tentang teknik-teknik peperangan. Dalam tempoh tiga tahun dia berjaya melatih 1,000 orang pengikut. Sebagai seorang pemimpin yang arif akan keadaan sekelilingnya, dia sedar bahawa kekuatan kerajaan Hindu Majapahit telah lemah. Ini merupakan satu peluang yang baik baginya untuk meluaskan kekuasaan dan dengan ini dapat mengembangkan syiar Islam.

Raden Patah telah menjalankan strategi berikut untuk menguasai Jawa:
1. Dari tahun 1474 hingga 1477, dia mengumpulkan pengikutnya dan mengukuhkan kekuatannya di Demak.
2. Dari tahun 1477 hingga 1478, menakluk pelabuhan untuk menguasai lalu-lintas perairan di utara Jawa. Ini telah melemahkan lagi kerajaan Majapahit di samping menambah kekayaan kepada Demak.
3. Pada tahun 1478, menguasai Majapahit.
4. Pada tahun 1512, cuba menguasai Melaka, tetapi telah digagalkan oleh Portugis.

Pada tahun 1477, Raden Patah berjaya menawan pelabuhan Semarang dan memerintah dengan adil serta mendapat kerjasama daripada orang-orang Cina yang mahir membuat kapal. Dengan kapal-kapal itulah, Raden Patah telah dapat menguasai lalu-lintas di perairan Laut Jawa. Dia tidak memaksa orang-orang Cina dan pedagang-pedagang memeluk Islam kerana dia sedar bahawa orang-orang tersebut akan lebih tertarik kepada Islam dengan memberi mereka layanan yang baik daripada menggunakan kekerasan.

Setelah berasa cukup kuat dan banyak mendapat maklumat daripada Raden Kusen, Raden Patah telah menyerang Majapahit pada tahun 1478. Serangan itu telah berjaya menakluk Majapahit dengan begitu cepat. Raja Kertabumi lari ke Sengguruh di Jawa Timur, dan akhirnya ke Bali. Alat-alat kebesaran dan harta-harta Majapahit telah dibawa ke Demak menggunakan tujuh buah kereta kuda. Raden Kusen telah dilantik menjadi Bupati Semarang pada tahun 1478. Raden Kusen telah membina tempat membuat kapal yang besar di Semarang.

Raden Patah juga telah melantik seorang lelaki Cina bernama Njoo Lay Wa sebagai gabenor di Majapahit. Ini dilakukannya disebabkan dia bimbang kalau-kalau gabenor yang terdiri daripada orang Jawa dapat mempengaruhi penduduk tempat untuk bangkit memberontak. Ini memang terjadi kemudiannya. Gabenor Njoo Lay Wa telah dibunuh oleh orang-orang Majapahit pada tahun 1846. Raden Patah telah menggantikannya dengan menantu Kertabumi bernama Girindrawardhana yang juga menjadi iparnya dan memerintah selama 40 tahun (1486-1527).

Bagaimanapun, Girindrawardhana telah berpaling tadah - dapat menarik sokongan orang-orang Majapahit dan mengadakan hubungan dengan orang-orang Portugis di Melaka melawan Demak. Oleh hal yang demikian itu, tentera Demak di bawah pimpinan Raden Patah terpaksa menentang Majapahit sekali lagi pada tahun 1517.

Setelah menawan Majapahit buat pertama kalinya pada tahun 1478, Raden Patah bercita-cita pula untuk menawan Melaka kerana bandar itu merupakan pusat perdagangan yang menjadi tandingan kepada Japara dan Gresik di Nusantara. Bagaimanapun, persiapan untuk melanggar Melaka yang ketika itu semakin goyah dengan masalah dalaman, hanya lengkap pada tahun 1512 dan ketika itu pula Melaka telah jatuh ke tangan Portugis setahun sebelumnya (1511). Bagaimanapun, ini menambahkan lagi sebab untuk Raden Patah menawan Melaka kerana ia telah jatuh ke tangan orang bukan Islam. Armada Demak (Jawa) yang diketuai oleh Patih Yunus (anak Raden Patah) telah melancarkan serangan pada tahun 1512 tetapi dapat dipatahkan oleh Portugis. Ini kerana Portugis menggunakan alat peperangan moden dan boleh menenggelamkan kapal-kapal Demak dari jauh kerana mereka menggunakan meriam besar jarak jauh. Manakala tentera Demak yang tiada mempunyai meriam perlu merapati kapal Portugis dan kemudian menaikinya untuk menawannya. Kekalahan tersebut bukan kekurangan semangat atau bilangan tentera tetapi kerana kemunduran teknologi orang Demak sendiri. Daripada 100 buah jong yang menyerang Melaka itu, hanya tujuh atau lapan buah sahaja yang pulang ke Demak bersama-sama Patih Yunus.

Dasar Raden Patah menundukkan kerajaan Hindu di Jawa dan menentang Portugis daripada bertapak di situ diteruskan oleh pengganti-penggantinya. Raden Patah meninggal dunia pada tahun 1518 dan digantikan oleh anaknya, Patih Yunus sebagai raja Demak. Pada tahun 1512, sekali lagi Patih Yunus menyerang Portugis di Melaka, tetapi kali ini juga gagal. Patih Yunus meninggal dunia pada tahun tersebut setelah pulang dari Melaka.

Selepas berlaku satu rebutan kuasa, Sultan Terengganu telah menjadi pemerintah Demak dari tahun 1521 hingga 1546. Demak mencapai kekuasaan yang terbesar ketika itu. Pada zaman pemerintahan Sultan Terengganu, wilayah Demak telah diperluaskan lagi. Majapahit yang mulai mengadakan hubungan dengan Portugis di Melaka telah ditawan sekali lagi oleh Demak pada tahun 1527 di bawah pimpinan Sunan Gunung Jati (salah seorang Wali Songo). Setahun sebelum itu Sunan Gunung Jati telah menewaskan armada Portugis di Sunda Kapala di Jawa Barat dan mendirikan kota Jayakarta (Jakarta sekarang – dikenali sebagai Batavia atau Betawi pada zaman pemerintahan Belanda). Tindakan ini menghalang Portugis daripada bertapak di Pulau Jawa.

Raden Patah telah menyandarkan kekuatannya kepada masyarakat di persisiran pantai kerana dia bercita-cita membina sebuah negara atau kerajaan Islam maritim. Oleh sebab itu, perhatiannya telah dicurahkan kepada pembina-pembina kapal di pelabuhan untuk membangunkan kekuatan armadanya. Segala kekuatan Demak telah dikerahkan untuk menentang Portugis supaya dapat mengambil alih kuasa perdagangan di Nusantara. Dalam hal ini, dia telah berjaya menghalang Portugis daripada bertapak di Jawa tetapi gagal menghalau kuasa Eropah itu dari kepulauan Maluku yang kaya dengan hasil rempah.

Disebabkan Raden Patah banyak menumpukan tenaga dan fikiran untuk melengkapkan keperluan bagi menentang Portugis, dia kurang memberi tumpuan kepada rakyat di kawasan pedalaman. Oleh hal yang demikian, dia tidak mendapat sokongan rakyat di kawasan-kawasan tersebut. Akhirnya kerajaan Demak selepas Raden Patah dan dua orang penggantinya, telah runtuh diserang kerajaan Islam Pajang pada tahun 1546 yang mendapat sokongan daripada rakyat di pedalaman.