Rezeki Halal

Rezeki Halal Pada Perspektif Yang Sebenar

Hikmah : Cerita Dunia Dengan Kalbu !!!

Written By: Zahiruddin - Jan• 27•10

Salam,

Pada tulisan kali ini saya ingin kongsikan satu email yang sahabat saya berikan kepada saya. Intinya padat dan straight to the point. Ianya memberi kita peringatan akan “Bagaimana Cara Sepatutnya Kita Menjalani Kehidupan Dunia Ini”. Semoga dengan perkongsian ini kita akan lebih mengingati Allah s.w.t dan mentaati seluruh perintahNya.

Jalanilah kehidupan ini dengan penuh yakin bahawa Allah s.w.t sentiasa bersama kita di setiap ketika. Tidak kira waktu kita senang atau waktu kita susah. Kehadiran Allah s.w.t pada hati kita itu adalah satu NIKMAT yang tiada bandingannya dengan dunia dan seisinya.

Ya Allah, berkatilah, rahmatilah dan sejahterailah kami semua. Semua kami semua di bimbing kepada Mu dengan rahmat mu Ya Alla.

Zahiruddin

p/s: Artikelnya di bawah semoga di berkati semua:

Allah berfirman, “Aku lebih dekat kepadamu daripada urat lehermu sendiri.” Sedekat itulah Allah kepadamu—di dalam dirimu dan sepenuhnya meliputi dirimu. Segala yang ada di sekelilingmu, sebenarnya adalah Allah. Engkau seperti ikan di lautan. Kau tidak bisa melihat Allah, kecuali jika Dia berkehendak agar diri-Nya tampak kepadamu. Dan Allah akan kau kenali dengan cara yang berbeda dari pengenalan yang orang lain alami. Jadi, engkau tidak akan pernah bisa menyampaikan seluruh pengenalan yang kau alami kepada orang lain.
Allah Yang Maha Tinggi, yang tidak termuat oleh seluruh lelangit dan bumi, ternyata menemukan tempat di kalbu hamba-hamba yang mu’min.[ Pengalaman tentang Dia, datang dari dalam kalbu-mu sendiri. Allah akan tampak padamu sesuai dengan keupayaan mu, sesuai dengan kemampuan mu. Berbeza-beza pada setiap kita mmasing-mmasing.
Di kali yang lain, Ibrahim bin Adham pergi ke luar istana untuk bersantap di alam terbuka. Ketika makanan dihidangkan di hadapannya, tiba-tiba seekor burung gagak menukik turun dan menyambar rotinya. Sultan pun segera memerintahkan para pengawalnya untuk mengikuti gagak itu. Mereka melompat ke punggung kudanya masing-masing dan segera mengikutinya, hingga gagak itu turun ke sebuah tempat di mana ada seorang laki-laki terikat pada sebatang pohon. Gagak itu sedang menaruh roti ke mulut lelaki tersebut.
Para pengawal melaporkan kejadian itu kepada Sultan, yang kemudian mendatangi lelaki itu dan bertanya, “Siapa kau? Apa yang telah terjadi padamu?” Lelaki itu pun menjawab, “Aku adalah seorang dari kafilah dagang, dan para perampok merampas semua yang kumiliki. Aku sudah terikat didi sini selama berhari-hari. Setiap hari burung hitam ini membawakan makanan dan menaruhnya ke mulutku. Ketika aku haus, ada awan kecil yang terbentuk dan menurunkan hujannya tepat ke mulutku.”
Seperti Nabi Isa a.s. telah mengatakan, perhatikanlah burung-burung. Mereka berangkat di pagi hari dalam keadaan lapar, dan Tuhan menyediakan makanan bagi merek.a. Kemudian, pada malam hari mereka kembali ke sarangnya dalam keadaan kenyang. Mereka tidak perlu memenuhi sendiri kebutuhan-kebutuhan mereka. Di sini, Allah menunjukkan kepada Ibrahim bin Adham bahwa ia benar-benar tidak perlu untuk membiarkan dirinya terikat kepada kesultanannya, kepada dunia ini. Semua kebutuhannya, Allah-lah yang akan menyediakannya.
Nabi Isa a.s. melepaskan dunianya. Ia sepenuhnya menceraikan dunia ini. Sehingga, seluruh kepemilikannya hanya terdiri dari dua benda: sisirnya yang biasa ia pakai untuk menyisiri janggutnya, dan sebuah cawan yang digunakannya untuk minum.
Pada suatu hari, Nabi Isa a.s. melihat seorang lelaki tua yang sedang menyisiri janggutnya dengan jemari tangan, sehingga beliau pun membuang sisirnya. Kemudian ia melihat seorang lelaki lain sedang meminum air dari tangkupan kedua tangannya, dan beliau pun membuang cawannya.
Selama engkau tidak menceraikan dunia dan segala sifat keduniawiannya, kau tidak akan pernah bertemu dengan Tuhan. Pada persoalan ini, kau harus memahaminya dengan sangat berhati-hati! Nabi Isa a.s. adalah Nabi yang menjadi contoh pelepasan diri dari dunia kebendaanal secara sempurna. Di sisi lain, kau juga mengenal seorang nabi besar lain, Raja Sulaiman a.s.. Beliau adalah manusia yang paling kaya dari yang terkaya, juga yang paling berkuasa; baik di dunia ini maupun di alam-alam lainnya.
Nabi Sulaiman adalah raja bagi kalangan manusia, jin dan hewan; dan bagi segala sesuatu yang mengandung unsur udara, tanah, air maupun api. Dunia menjadi penghalang antara dirimu dan Tuhan selama hatimu terikat pada apa-apa yang kau miliki. Kalau engkau memiliki segala yang kau inginkan tapi tanpa itu semua pun kau sama sekali tidak bermasalah, itu tidak apa-apa. Di sisi lain, kalau kau tidak memiliki apa pun selain sebuah kepala ikan masin, tapi hatimu masih terikat kepada kepala ikan masin itu, maka engkau terikat kepada dunia ini. Intinya adalah menceraikan dunia dengan kalbu. Kemiskinan kebendaan bukanlah inti persoalannya.

Allah berfirman, “Aku lebih dekat kepadamu daripada urat lehermu sendiri.” Sedekat itulah Allah kepadamu—di dalam dirimu dan sepenuhnya meliputi dirimu. Segala yang ada di sekelilingmu, sebenarnya adalah Allah. Engkau seperti ikan di lautan. Kau tidak bisa melihat Allah, kecuali jika Dia berkehendak agar diri-Nya tampak kepadamu. Dan Allah akan kau kenali dengan cara yang berbeda dari pengenalan yang orang lain alami. Jadi, engkau tidak akan pernah bisa menyampaikan seluruh pengenalan yang kau alami kepada orang lain.

Allah Yang Maha Tinggi, yang tidak termuat oleh seluruh lelangit dan bumi, ternyata menemukan tempat di kalbu hamba-hamba yang mu’min.[ Pengalaman tentang Dia, datang dari dalam kalbu-mu sendiri. Allah akan tampak padamu sesuai dengan keupayaan mu, sesuai dengan kemampuan mu. Berbeza-beza pada setiap kita mmasing-mmasing.

Di kali yang lain, Ibrahim bin Adham pergi ke luar istana untuk bersantap di alam terbuka. Ketika makanan dihidangkan di hadapannya, tiba-tiba seekor burung gagak menukik turun dan menyambar rotinya. Sultan pun segera memerintahkan para pengawalnya untuk mengikuti gagak itu. Mereka melompat ke punggung kudanya masing-masing dan segera mengikutinya, hingga gagak itu turun ke sebuah tempat di mana ada seorang laki-laki terikat pada sebatang pohon. Gagak itu sedang menaruh roti ke mulut lelaki tersebut.

Para pengawal melaporkan kejadian itu kepada Sultan, yang kemudian mendatangi lelaki itu dan bertanya, “Siapa kau? Apa yang telah terjadi padamu?” Lelaki itu pun menjawab, “Aku adalah seorang dari kafilah dagang, dan para perampok merampas semua yang kumiliki. Aku sudah terikat didi sini selama berhari-hari. Setiap hari burung hitam ini membawakan makanan dan menaruhnya ke mulutku. Ketika aku haus, ada awan kecil yang terbentuk dan menurunkan hujannya tepat ke mulutku.”

Seperti Nabi Isa a.s. telah mengatakan, perhatikanlah burung-burung. Mereka berangkat di pagi hari dalam keadaan lapar, dan Tuhan menyediakan makanan bagi merek.a. Kemudian, pada malam hari mereka kembali ke sarangnya dalam keadaan kenyang. Mereka tidak perlu memenuhi sendiri kebutuhan-kebutuhan mereka. Di sini, Allah menunjukkan kepada Ibrahim bin Adham bahwa ia benar-benar tidak perlu untuk membiarkan dirinya terikat kepada kesultanannya, kepada dunia ini. Semua kebutuhannya, Allah-lah yang akan menyediakannya.

Nabi Isa a.s. melepaskan dunianya. Ia sepenuhnya menceraikan dunia ini. Sehingga, seluruh kepemilikannya hanya terdiri dari dua benda: sisirnya yang biasa ia pakai untuk menyisiri janggutnya, dan sebuah cawan yang digunakannya untuk minum.

Pada suatu hari, Nabi Isa a.s. melihat seorang lelaki tua yang sedang menyisiri janggutnya dengan jemari tangan, sehingga beliau pun membuang sisirnya. Kemudian ia melihat seorang lelaki lain sedang meminum air dari tangkupan kedua tangannya, dan beliau pun membuang cawannya.

Selama engkau tidak menceraikan dunia dan segala sifat keduniawiannya, kau tidak akan pernah bertemu dengan Tuhan. Pada persoalan ini, kau harus memahaminya dengan sangat berhati-hati! Nabi Isa a.s. adalah Nabi yang menjadi contoh pelepasan diri dari dunia kebendaanal secara sempurna. Di sisi lain, kau juga mengenal seorang nabi besar lain, Raja Sulaiman a.s.. Beliau adalah manusia yang paling kaya dari yang terkaya, juga yang paling berkuasa; baik di dunia ini maupun di alam-alam lainnya.

Nabi Sulaiman adalah raja bagi kalangan manusia, jin dan hewan; dan bagi segala sesuatu yang mengandung unsur udara, tanah, air maupun api. Dunia menjadi penghalang antara dirimu dan Tuhan selama hatimu terikat pada apa-apa yang kau miliki. Kalau engkau memiliki segala yang kau inginkan tapi tanpa itu semua pun kau sama sekali tidak bermasalah, itu tidak apa-apa. Di sisi lain, kalau kau tidak memiliki apa pun selain sebuah kepala ikan masin, tapi hatimu masih terikat kepada kepala ikan masin itu, maka engkau terikat kepada dunia ini. Intinya adalah menceraikan dunia dengan kalbu. Kemiskinan kebendaan bukanlah inti persoalannya.

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Performance Optimization WordPress Plugins by W3 EDGE