Perihal Keris Jawa Pusaka Kraton
Salam,
Pada kali ini saya teringin pula untuk berkongsi perihal keris. Dulu ayah saya pernah ada keris pusaka tetapi keris itu telah di beri kepada orang atas sebab-sebab tertentu. Kini saya tidak mempunyai keris lagi. Sejak kebelakangan ini saya agak berminat perihal keris tidak tahu mengapa. Yelah beberapa bulan sebelum itu saya berminat perihal keturunan saya. Semua itu adalah kuasa Allah s.w.t untuk mengajar saya yang tak faham-faham ini.
Saya sedikit demi sedikit sedang membaca perihal keris dan mendapatkan maklumat berkenaannya. Saya akan menyambung menulis perihal keris ini dalam beberapa tulisan yang akan mendatang.
Terima Kasih,
Zahiruddin
p/s: Kepada sesiapa yang ada maklumat perihal keris boleh email kepada saya.
Perihal Keris Jawa Pusaka Kraton
Sejak abad ke-19 Masehi sampai masa kerajaan Islam di Jawa keberadaan keris terus berlanjut, bahkan sekarang masih dijumpai pembuatan keris di beberapa tempat dengan teknik-teknik tempa lipat yang menjadi ciri khusus pembuatan keris. Pada teknik tempa-lipat besi dan pamornya disatukan kemudian ditempa sampai menjadi satu, kemudian dilipat dan ditempa lagi, demikian seterusnya.
Sebuah keris mempunyai ricikan yang terdiri dari:
- Pesi, semacam akar bilah berbentuk bulat,panjang sekitar 7-8 cm, dibuat dari besi untuk ditancapkan ke dalam ukiran (pegangan keris);
- Ganja, dudukan keris yang terletak pada pangkal bilah. Ada dua macam ganja yakni ganja iras dan ganja susulan. Disebut ganja iras jika ganja tersebut merupakan terusan dari bilah, sedangkan yang disebut ganja susulan adalah ganja lepasan;
- Wilah, yakni badan keris mulai dari perbatasan ganja sampai ujung tajaman keris (pucuk atau kudhup). Pucuk keris ada yang dinamakan: kudhup nyujen, pucuk yang sangat runcing; kudhup gabah kopong, seperti bentuk gabah; kudhup buntut tuma, ujungnya berbentuk seperti ekor kutu; kudhup kembang gambir, pucuk yang tidak terlalu runcing, tetapi tajam sekali.
Pamor diketahui berasal dari meteor yang jatuh ke bumi. Di Jawa, tercatat bahwa pada masa pemerintahan Susuhunan Paku Buwana IV ditemukan sebongkah meteor yang jatuh ke bumi, yaitu sekitar tahun 1723 J atau tahun 1801 M. Meteor yang jatuh di sekitar daerah Prambanan wilayah Surakarta tersebut berukuran tinggi sekitar 50 cm, dan berdiameter 80 cm.
Benda tersebut sampai sekarang disimpan di Kraton Surakarta sebagai salah satu benda pusaka kraton, dan disebut “Kanjeng Kyai Pamor” yang dimanfaatkan dalam pembuatan keris sejak Susuhunan Paku Buwana IV hingga Susuhunan Paku Buwana XI (1939-1945). Penelitian metalurgis terhadap meteor tersebut dengan menggunakan spectrophotometer menunjukkan bahwa didalam kanjeng Kyai Pamor terdapat unsur-unsur nikel, titanium, besi, timbal, dan timah putih atau sekitar 94% unsur besi dan 5% unsur nikel.
Ada beberapa jenis meteor yaitu:
- meteorit, mengandung besi dan nikel, kalau ditempa didalam keris menjadi kelabu;
- siderit, hanya mengandung besi, kalau ditempa dalam keris menjadi ‘pamor ireng’ (warna hitam); dan
- aerolit, kalau ditempa dalam keris tidak tampak jelas, disebut ‘pamor jalada’.
Dilihat dari proses terjadinya, pamor keris dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
- pamor Jwalana, pamor yang terjadi dengan sendirinya karena keahlian sang empu, corak dan ragam hiasnya terjadi secara alamiah. Contoh pamor Jwalana adalah : pamor Mega Mendhung, pamor Urap-urap dan pamor Ngulit Semangka;
- pamor Anukarta, yakni pamor yang dibuat secara sengaja, direncanakan oleh sang empu. Contohnya pamor Blarak Ngirid, pamor Kenanga Ginubah, pamor Wiji Timun, pamor Untu Walang dan pamor Udan Mas.
Kegunaan keris bagi masyarakat Jawa bermacam-macam. Pada mulanya keris adalah senjata tikam dalam perkelahian atau pertempuran. Dalam hal ini keris dibawa sebagai sipat kandel. Namun dalam perkembangannya, keris tidak lagi berfungsi sebagai senjata, tetapi sebagai tosan aji, artefak karya empu pembuatnya. Sebagai konsep perpaduan ‘bapa akasa ibu pertiwi’ keris dipercaya menyandang kekuatan gaib yang dapat bepengaruh bagi pemiliknya. Akhirnya keris merupakan bagian dari budaya jawa sebagai salah satu kelengkapan hidup orang Jawa yang tergambar dalam konsep: wisma (rumah), garwa (istri), turangga (kuda), kukila (burung) dan curiga (senjata keris).
Di antara keris-keris pusaka Kraton Yogyakarta yang menduduki tempat terpenting adalah kangjeng Kyai Ageng Kopek. Keris ini hanya boleh dikenakan oleh sultan sendiri, lambang perannya sebagai pemimpin rohani dan duniawi. Menurut tradisi keris ini dibuat pada masa kerajaan Demak dan pernah dimiliki oleh Sunan Kalijaga. Selain itu ada keris Kangjeng Kyai Joko Piturun yang hanya boleh dikenakan oleh putra mahkota, sedang Kangjeng Kyai Toyatinaban adalah keris yang dikenakan oleh Gusti Pangeran Harya Hangabehi, putra lelaki tertua Sultan. Keris Kangjeng Kyai Purboniat hanya boleh dikenakan oleh patih Danureja.
Related articles by Zemanta
- To Which Species Does Allah Belong? (articlesbase.com)


![Reblog this post [with Zemanta]](http://img.zemanta.com/reblog_e.png?x-id=bb604532-a998-4218-a2f7-268c566ff745)


May 29th, 2009 at 2:32 am
Saya ada bbrp keris yg hendak saya maharkan baik keris peninggalan maupun private koleksi.
June 24th, 2009 at 10:30 pm
bagus.. terus kan usaha mengenai keris..
June 25th, 2009 at 7:50 am
Salam Farid, anda mempunyai website menarik perihal keris http://mohdfarididris.com/ .
June 25th, 2009 at 7:51 am
Terima kasih anonim nanti saya hubungi anda perihal keris.
July 3rd, 2009 at 3:16 pm
terima kasih.. sy juga ade menjual pelbagai jenis keris dr patani, malaysia, jawa, sematera dan kepulauan sulu..
April 25th, 2010 at 1:20 am
adakah yang tertarik mengoleksi keris kyai kopek???
August 20th, 2010 at 9:30 am
Keris merupakan senjata masa lalu dan masa kini yang dapat ditingkatkan kekuatan dan kempuhannya tergantung pada pemilik pusaka tersebut.